Membaca Sensasi Post-Truth di "Revolusi Esok Pagi #6"

Esai Irfan Palippui 24 Jun 2025

Gambar Utama
"Menyelami Seni/Sastra merupakan cara paling cepat menjadi manusia, karena ia menyebabkan... menjadikan..., dan mengakibatkan rekonfigurasi rasa nalar."

Esok hanyalah persoalan durasi, dan pagi bukan semata siklus matahari. Di balik keduanya tersimpan janji, bahkan ancaman dalam lipatan-lipatannya. "Revolusi Esok Pagi #6" hadir tidak sekadar sebagai pameran, tetapi sekaligus menjadi anatomi era pascakebenaran.

Sebagai tema pameran keenam, Post-Truth menunjukkan serpihan-serpihan dari janji tersebut. Ia tak hanya memberi jeda estetika di tengah hiruk pikuk kebisingan masa kini, melainkan juga inkubator pergolakan makna yang terus berganti rupa. Pameran ini menuntut rekonfigurasi rasa nalar yang terpinggirkan, yang terlaksana di ruang-ruang sempit yang mungkin menandakan matinya ruang publik di kota ini. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 21 hingga 25 Juni 2025 di Institut Kesenian Makassar.

"Revolusi Esok Pagi #6" memanfaatkan tempat seadanya, mengoptimalkannya sebagai layout pameran. Memasuki ruang pameran, pengunjung harus bersiap menghadapi mini labirin bertingkat, terbagi dalam tiga lantai berbeda. Untuk mencapainya, kita harus menaiki tangga, lalu memilih untuk masuk ke kamar-kamar yang sebelumnya merupakan ruang kerja atau studio yang dioptimalkan. Menariknya, labirin bertingkat ini memberikan jeda bagi pengunjung, memungkinkan mereka mengambil napas sembari melangkah di lorong-lorong sempit yang juga berfungsi sebagai tangga menuju ruang-ruang pameran.

Ruang ini sendiri adalah teks yang harus dibaca. Sebab, ruang-ruang dalam tempat pamer bukanlah lorong panjang yang mengalirkan pandangan tanpa hambatan, melainkan serangkaian sel, jeda-jeda yang memaksa berhenti, menghirup, dan kemudian melanjutkan. Di lantai satu, kita akan mulai mengambil jeda, dan melihat pada sesuatu yang menggantung, juga pada peristiwa surreal yang melampaui pengalaman visual dunia nyata kita sebelumnya. Perjalanan berikutnya, menuju lantai-lantai di atasnya yang menuntut pendakian menjadikan setiap tangga adalah sebuah alinea, setiap ruang adalah sebuah paragraf.

Ini bukan kebetulan. Ini adalah sebuah strategi, sadar atau tidak, untuk menggerus kecepatan, untuk memperlambat konsumsi visual. Dalam lanskap di mana narasi-narasi tersebar dan terpilah, di mana kebenaran bisa menjadi sepotong meme yang melintas begitu saja. Pengalaman fisik pameran ini mengajarkan sebuah ritme baru: ritme refleksi, ritme kesabaran.

Sensasi menanjak, memasuki ruang-ruang yang terpisah, menciptakan sebuah kesadaran bahwa makna tidak akan pernah tersedia secara instan, melainkan harus dicari, diurai, sepotong demi sepotong. Ini adalah sebuah pelajaran semiotik yang sublim: bagaimana ruang fisik dapat membingkai ruang mental, dan bagaimana arsitektur bisa memengaruhi anatomi sensasi kita.

Pameran ini merefleksikan gestur situasi zaman: di sini dan saat ini. Ia menjadi pernyataan bisu dari para perupa yang menangkap vibrasi ruang yang memekik dan bising. Tidak hanya merepresentasikan, pameran ini menghadirkan seni sebagai peristiwa. Ia sekaligus respons ketidakpuasan, sehingga menjadi upaya melahirkan ladang redistribusi rasa nalar untuk membongkar tatanan kebenaran yang sekadar menjadi artefak retoris.

Secara keseluruhan, hampir semua karya mempresentasikan kondisi kepalsuan di era pascakebenaran saat ini, sesuai dengan tema pameran. Oleh karena itu, untuk menggambarkannya, saya akan meminjam dua karya yang membuat saya mengambil jeda panjang saat bertatapan dengannya: karya Zamkamil dengan "Aktor Intelektual (AI)" dan A.H. Rimba dengan "Tantrum". Masing-masing karya ini mendesak dan memaksa sebuah pembacaan, seolah mereka sendiri adalah titik-titik lebur di mana post-truth itu paling telanjang terasa.

Mari kita kembali ke lantai pertama untuk bertatapan dengan "Aktor Intelektual (AI)", karya Zamkamil.

Ini adalah pernyataan tegas Zamkamil tentang bagaimana era pascakebenaran kini dikelola oleh mereka yang disebutnya intelektual. Akrilik di atas kanvas 130 x 130 cm, ia menampilkan potret yang sangat sur, melampaui gambaran realistis pada umumnya. Potret itu terkesan formal: berjas dengan dasi merah menyala, busana yang sering dikenakan oleh para pemegang kekuasaan. Hanya saja, wajahnya telah berubah. Tak lagi seperti potret konvensional yang khas menawarkan senyuman. Kepalanya diganti nanas utuh, berduri, dengan mahkota hijaunya tegak.

Melihat karya ini, tatapan kita segera terganggu, seolah ada sesuatu yang menusuk benak. Bayangkan, buah yang di luarnya keras dan berduri itu, yang menutupi dagingnya yang lembut, kini hadir di hadapan kita. Apakah ini metafora intelektual di era pascakebenaran saat ini: kaku dan lebih menyembunyikan kebijaksanaannya? Atau sebaliknya, lebih suram lagi: jangan-jangan, inilah topeng yang menyembunyikan kekosongan semata?

Zamkamil membagi latar belakang menjadi dua belahan. Tepat di bagian telinga sang sosok, batas antara kuning dan hitam ditempatkan. Kuning terang menyertai mahkota hijau nanas di bagian atas, sementara hitam pekat mendominasi bagian bawah latar. Namun, justru di sana kita dapat menemukan lebih banyak kompleksitas.

Di dalam latar hitam terlihat sketsa-sketsa menyerupai diagram serta tarikan garis abstrak lainnya. Di sekelilingnya, siluet manusia berkelebat, menari, dan terombang-ambing. Ini semacam kondisi atau sensasi yang dialami seseorang yang sedang berjuang keras, tetapi mengalami halangan dan perasaan yang berat. Hal ini bisa dipastikan dari garis abstrak yang tampak di batas antara latar hitam dan kuning, di situ tertulis: "dan kita terayun dalam mimpi yang kepagian."

Ada persoalan besar melanda peran para intelektual. Inilah mengapa Zamkamil menggunakan istilah "aktor", tidak cukup denga kata "intelektual". Inilah paradoks ingin ditonjolkan. Karya ini tak lagi melihat intelektual itu memainkan perannya sebagai pencari kebenaran dan pembawa cahaya perubahan. Di era pascakebenaran, pada akhirnya itu hanyalah mimpi kepagian bagi Zamkamil.

Dan, jika kita melihat tanda kurung (AI) yang mengacu pada kecerdasan buatan, maka situasinya lebih mengerikan lagi, sebab bahkan di sana bisa jadi tersirat potensi mati dan punahnya intelektualisme. Zamkamil memaksa kita untuk membaca ulang lanskap intelektual kita, untuk mempertanyakan setiap sumber cahaya, setiap "fakta", yang kini mungkin hanya ilusi yang dipentaskan. Ini adalah intervensi langsung terhadap "rasa nalar" para pengunjung agar selalu kritis terhadap setiap klaim otoritas.

Di lantai tiga, "Tantrum" oleh A.H. Rimba hadir sebagai respons emosional terhadap dislokasi yang telah kita saksikan. Lukisan akrilik 80 x 80 cm ini tidak lagi berhadapan dengan konsep, melainkan dengan sensasi yang tumpul. Sebuah gejolak batin. Sosok itu, dengan rambutnya yang terkuncir, menunduk, tangan menutupi wajah, menunjukkan gestur universal dari keputusasaan, kemarahan yang tertahan, atau kesedihan yang tak tertahankan. Warna hitam dan putih yang mendominasi sosok tersebut, kontras dengan semburat jingga dan krem di latar belakang. Ia menciptakan sebuah drama, sebuah ledakan yang tertahan dalam kanvas.

Mungkin kita akan mengasosiasikan "Tantrum" sebagai pelepasan atau ledakan emosi kekanak-kanankan yang tidak terkontrol. Akan tetapi, Rimba mengangkatnya ke level eksistensial.

Di era post-truth, ketika logika seringkali gagal, ketika fakta dipermainkan, mungkinkah "tantrum" adalah respons paling otentik yang masih tersisa? Dalam deskripsi penciptaan karya, Rimba menelusuri realitas bising yang menimpa orang-orang saat ini: "Memilih tertawa, dianggap disepelekan", "Bersikap Diam, diposisikan sebagai manusia bodoh". Ini adalah dilema, sebuah jebakan retoris di mana setiap reaksi dianggap cacat. "Teriakan adalah keputusan, meledak penuh emosi, mengamuk bagai singa, walau akhirnya berujung tangisan." Ini adalah drama puncaknya, sebuah pengakuan bahwa perjuangan melawan absurditas bisa berakhir dengan kelelahan, bahkan air mata.

Walaupun demikian, Rimba juga membuka celah: "hanya beberapa manusia kecil memilih keputusan untuk diam dan merenung." Diam, di sini, bukan berarti menyerah, melainkan sebuah bentuk perlawanan lain. Suatu penarikan diri untuk menyusun kembali nalar yang tercerai-berai.

"Tantrum" adaalah "redistribusi rasa nalar" dari ceruk batin terdalam. Ia tidak berbicara dalam logika, melainkan dalam perasaan. Ia menegaskan bahwa dalam kegagalan nalar rasional untuk mengatasi post-truth, emosi—baik itu kemarahan yang meledak atau kedalaman perenungan—juga adalah bentuk-bentuk kebenaran, bentuk-bentuk untuk memahami dan merespons dunia yang tak masuk akal.

"Revolusi Esok Pagi #6" bukan hanya sebuah arsip visual dari kekhawatiran kontemporer, melainkan sebuah arena di mana rasa nalar kita diuji, diprovokasi, dan mungkin dibentuk kembali. Dari arsitektur ruang yang menuntun jeda reflektif, hingga kedalaman naratif Zamkamil dan intensitas emosional Rimba, pameran ini mengajak kita untuk merekonfigurasi tatanan lama kebenaran.

"Aktor Intelektual (AI)" mengoyak ilusi otentisitas, sementara "Tantrum" merayakan otentisitas emosi sebagai respons terakhir.

Kedua karya ini membentuk sebuah dialektika yang kaya. Ia menjadi undangan untuk tidak hanya melihat, tetapi juga menawarkan jalan mewujudkan ulang ruang-ruang rasa nalar baru di tengah ladang post-truth yang tak henti-hentinya bergulir. Pameran ini adalah sebuah pengingat bahwa seni, dalam keheningannya, mampu berbicara lebih lantang daripada riuhnya klaim dan disinformasi.

Gowa, 23/06/2025