Kategori: Monograf
Penulis: Dr. FATMAWATI, S.S., M.A
Halaman: 126
Stok: 100
ISBN:
Melalui penelusuran genealogi lembaga penyelenggara pemilu sejak Pemilu 1955 hingga Pemilu 2024, buku ini menunjukkan bagaimana perubahan rezim politik turut membentuk wajah dan kewenangan lembaga pemilu. Transformasi dari lembaga yang berada dalam kontrol negara menuju institusi independen seperti KPU, Bawaslu, dan DKPP menjadi bagian penting dari perjalanan demokrasi Indonesia. Namun, independensi secara hukum tidak serta-merta menghilangkan praktik kekuasaan. Penelitian dalam buku ini memperlihatkan bahwa proses rekrutmen masih menjadi ruang kontestasi yang melibatkan jaringan politik, birokrasi, organisasi masyarakat, relasi kedaerahan, patronase, serta komunikasi informal. Tim Seleksi, yang secara formal menjadi pintu pertama penyaringan calon, berada di tengah berbagai kepentingan tersebut. Dengan menggunakan perspektif genealogi, hegemoni, teori jaringan sosial, dan modal sosial, buku ini membongkar bagaimana kekuasaan bekerja bukan hanya melalui aturan formal, tetapi juga melalui jaringan, legitimasi sosial, rekomendasi, lobi, dan hubungan patron-klien. Jaringan sosial bahkan dapat menjadi mekanisme eksklusi: kandidat yang memiliki akses terhadap simpul-simpul kekuasaan memperoleh peluang lebih besar, sementara mereka yang berada di luar jaringan berpotensi tersisih meskipun memiliki kapasitas teknis. Dalam konteks Sulawesi Selatan, buku ini memperlihatkan bahwa seleksi penyelenggara pemilu merupakan arena yang kompleks, tempat modal sosial dan politik berkelindan dengan meritokrasi. Partai politik, birokrasi, organisasi masyarakat, dan ikatan kedaerahan dapat menjadi simpul jaringan yang memengaruhi peluang dan posisi kandidat. Pada akhirnya, buku ini tidak sekadar mempertanyakan siapa yang terpilih, tetapi lebih jauh mengajak pembaca bertanya: siapa yang sesungguhnya memiliki kekuasaan untuk memilih, melalui jaringan apa pilihan itu bekerja, dan untuk kepentingan siapa penyelenggara pemilu dibentuk?