BABRA KAMAL: MENEMUKAN NASION KITA YANG SENGAJA DILUPAKAN

Resensi Ishak R. Boufakar 21 May 2025

Gambar Utama
KETIKA karya Babra Kamal lahir dari rahim penerbit Subaltern, ia bukan sekadar buku yang dicetak dan dijilid—melainkan seperti bayi merah muda yang pertama kali menghirup udara, membawa serta napas harapan dan gelisah zaman. Kelahiran itu bukan hanya momen literer, tapi sebuah deklarasi sunyi yang menggugah banyak hati. Hanya dalam hitungan hari, kami bergerak dari Makassar, Maros, Pangkep, hingga PareparE, menyusuri jarak demi menyambut kelahiran itu dengan hangat: dengan diskusi, tawa kecil, kritik lembut, dan ingatan yang pelan-pelan dibuka kembali.

Pertemuan itu lebih dari sekadar peluncuran buku. Ia menyerupai ritus kolektif, tempat kami tak hanya merayakan tulisan Babra, tapi juga menyelami ulang luka-luka yang sering dipinggirkan dalam narasi besar kebangsaan. Dalam percakapan yang tumbuh dari ruang-ruang kecil, kami menyadari bahwa buku ini tak sekadar mengisahkan bangsa—ia mengajak kita membangun kembali “kita”, yang selama ini mungkin hanya hadir dalam poster, pidato, atau halaman buku pelajaran. Babra memaksa kita untuk menengok sisi lain dari Indonesia: sisi yang rapuh, yang marah, yang penuh tanya. Di balik setiap kalimat dalam buku ini, ada gema dari masa lalu yang belum selesai, dan undangan untuk menulis masa depan dengan lebih jujur.

Babra Kamal, pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sulawesi Selatan, sebelumnya telah menorehkan jejak pemikiran kritisnya lewat buku perdana Rayuan Pulau Buatan: Ekonomi Politik Reklamasi Pesisir di Makassar (2023). Kini, dalam karya keduanya, Menemukan Kembali ‘Nation’ Kita, Babra mengajak kita menyusuri lorong-lorong waktu dan sejarah yang terlupa—melalui esai-esai yang dahulu tersebar di media, kini terpatri menjadi wujud abadi dalam halaman-halaman buku. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan; ia adalah batu nisan sekaligus lilin penerang, mengingatkan kita agar jangan sampai lupa.

Mengapa buku ini penting? Karena ia membuka ruang bagi kita untuk bertanya lagi, dengan getir sekaligus harapan: siapa sebenarnya “kita” dalam negeri yang bernama Indonesia ini? Babra tidak membiarkan kita terbuai oleh dongeng kebangsaan yang seringkali indah namun tak utuh. Ia menelanjangi luka-luka lama yang belum sembuh, menggugat retorika kosong yang membungkus kebangsaan, dan mengajak kita menapaki realitas yang selama ini terlupakan.

Membaca buku ini seperti meraba peta ingatan yang penuh bekas luka, menyadari bahwa “nasion” kita selama ini tidak pernah utuh, selalu retak di sana-sini. Babra menantang kita untuk berani jujur, berani kecewa, sekaligus berani berharap. Ia mengajak kita menemukan kembali “kita” yang sesungguhnya, yang bukan sekadar kata-kata di pidato atau slogan kosong, melainkan jiwa yang tersambung dalam keberagaman dan sejarah yang rumit.

Ini bukan sekadar buku untuk dibaca, tapi untuk direnungkan, diserap, dan diperjuangkan—agar bangsa ini tidak lagi terjebak dalam nostalgia semu dan janji yang berulang. Sebuah panggilan lembut namun tegas, agar kita bersama-sama menata ulang narasi “kita”, menemukan “nasion” yang pernah hilang, dan merajut luka menjadi kekuatan.

*Tiga puluh satu esai dalam satu napas*

Menemukan Kembali ‘Nasion’ Kita menghimpun tiga puluh satu esai yang mengalir dalam satu napas panjang, dibagi ke dalam lima lanskap gagasan: sejarah, politik, ekonomi-politik, ekologi politik, dan sosial-budaya. Di antara kelimanya, mengalir satu benang merah yang tak putus-putus: upaya “menemukan kembali” sesuatu yang hilang—baik itu ingatan kolektif, luka yang tersembunyi, maupun makna kebangsaan yang kian kabur dalam riuh dunia hari ini.

Beberapa esai pilihan dalam buku Ini: Esai Menemukan Kembali ‘Nasion’ Kita—judul yang dipilih Babra sebagai wajah bukunya—bukan sekadar tajuk, melainkan sebuah deklarasi. Ia menjadi ruh yang mengaliri keseluruhan isi buku: upaya meraba luka-luka lama yang belum sembuh, sekaligus menggugat ulang makna menjadi “kita” dalam realitas Indonesia hari ini.

Babra tak menulis dari menara gading. Ia menulis dari kegelisahan dan kemarahan yang tak disuarakan. Dari kenyataan bahwa “Indonesia” sering kali hanya hidup dalam pidato, bukan dalam kehidupan rakyat sehari-hari. Salah satu contoh paling telanjang adalah peristiwa rasisme terhadap orang Papua di Surabaya. Bagi Babra, itu bukan sekadar insiden—melainkan retakan besar dalam imajinasi kebangsaan. Saat kata “saudara sebangsa” tak berarti di hadapan tubuh-tubuh yang direndahkan karena warna kulit dan asal daerah.

Di titik ini, Babra meminjam pisau analisis Benedict Anderson: bangsa adalah imagined community—komunitas yang dibentuk oleh narasi, bukan hanya fakta geografis. Tapi bagaimana jika imajinasi itu eksklusif? Jika “kita” dibayangkan tanpa benar-benar mencakup semua?

Ia juga mengingatkan pada Ariel Heryanto yang menulis bahwa harapan-harapan pasca-Reformasi sering dibangun di atas euforia semu. Maka muncul pertanyaan-pertanyaan penting: Apakah imajinasi kebangsaan kita adil? Mampukah ia menampung semua luka, suara, dan identitas? Atau justru kita hidup dalam dongeng yang dipaksakan?

Babra tak menawarkan jawaban instan. Ia justru mendorong kita untuk merenung—karena mungkin, mencintai bangsa dimulai dari keberanian untuk kecewa padanya.

Dalam esai Kejayaan Maritim Nusantara, Babra mengajak kita menyusuri jejak yang hampir lenyap dari ingatan kolektif: laut. Ia tidak menulis laut sebagai lanskap eksotis atau data statistik, tetapi sebagai ruang luka. Laut yang dulu menyatukan, kini tercecer dalam retorika dan kepentingan.

Janji besar Jokowi tentang Indonesia sebagai poros maritim dunia disorot sebagai ambisi yang karam. “Pagar laut” menjadi simbol ironi: alih-alih menyatukan, laut kini dipagari dan dikapling oleh segelintir kuasa. Babra membongkar kembali kejayaan
Sriwijaya dan Majapahit, bukan untuk romantisasi sejarah, tetapi untuk menunjukkan bahwa kejayaan itu lahir dari pemahaman laut sebagai jaringan pengetahuan dan kehidupan.

Ia mengaitkan gagasannya dengan Arus Balik Pramoedya Ananta Toer, membaca luka-luka maritim yang tak hanya diwariskan kolonialisme, tapi juga lahir dari pengkhianatan internal. Maka pertanyaan penting pun muncul: sanggupkah kita mencintai laut bukan karena potensinya untuk dieksploitasi, tetapi karena ia adalah bagian dari siapa kita sebenarnya?

Esai Siapakah Orang Sulsel yang Asli? membuka ruang refleksi tentang identitas dan keaslian. Babra menelusuri migrasi orang Bugis dan menolak narasi sempit tentang “keaslian” yang absolut. Dengan mengangkat kisah Lagaligo dan mitos Batara Guru, Babra menekankan bahwa identitas lahir dari perpindahan, pertemuan, dan percampuran.

Keaslian, menurutnya, adalah ilusi yang kerap dijadikan alat untuk memisahkan. Padahal, kita semua adalah pendatang dalam narasi besar yang saling bersilangan dan berkelindan. Dalam konteks ini, pertanyaan tentang siapa yang “asli”—entah di Sulsel, Maluku, atau daerah lain—menjadi tidak relevan, bahkan menyesatkan.

Dua esai lainnya, Selamat Jalan Tuan Jokowi dan Selamat Bekerja Presiden Prabowo, menyusun montase ironi politik Indonesia. Babra menampilkan transisi kekuasaan bukan sebagai perayaan demokrasi, tetapi sebagai pengulangan retorika. Janji poros maritim, reformasi agraria, hingga pemerataan pembangunan ditunjukkan sebagai kapal-kapal yang tak pernah benar-benar berlayar.

Judul kedua esai itu saling berpantulan: yang satu seolah melepas, yang lain menyambut—namun keduanya sama-sama menyimpan skeptisisme. Babra menyiratkan bahwa pergantian elit tak menjamin perubahan arah jika fondasi politik masih dibangun di atas amnesia. Ia mengajak pembaca lebih waspada, tak hanya pada siapa yang memimpin, tapi juga pada narasi apa yang diwariskan dan terus diproduksi: pembangunan tanpa keadilan, nasionalisme tanpa koreksi memori.

Selain itu, pembaca juga akan menemukan sejumlah esai menarik lainnya dalam buku ini, seperti Si 'Cantik' Makassar, Problem Domestik Bruto, Darurat Ekologi di Depan Mata, Reklamasi dan Kepentingan Kapital, Nasionalisme Sepak Bola, hingga Melihat Ketua Mao Membela Petani di Film India, dan lain sebagainya.

Syahdan, tiga puluh satu esai dalam buku Menemukan Kembali ‘Nasion’ Kita adalah tiga puluh satu detak kegelisahan. Dalam setiap tulisan, Babra Kamal tidak sedang membuat daftar isi akademik, melainkan menyusun makam-makam kecil dari harapan yang pernah tumbuh namun dilupakan. Ia tidak hanya mengajukan kritik, tetapi juga menyulam pelan-pelan ingatan kolektif yang tercerai—sejarah yang dikesampingkan, luka yang dinormalisasi, identitas yang dikapling atas nama “asli” dan “pendatang”.

Membaca buku ini ibarat membuka peta yang telah kusam: kita tak lagi tahu arah, tapi Babra mengajak kita untuk tidak menyerah pada kabut. Sebab dalam kabut itu, kata-kata menjelma kompas. Esai demi esai mengajak kita menyusuri lorong sejarah yang remang, tapi justru di situlah kita menemukan cahaya. Bukan cahaya kebenaran yang pasti, melainkan cahaya kesadaran bahwa bangsa ini dibentuk bukan dari satu kisah tunggal, melainkan dari persilangan, perpindahan, pertarungan, dan pengkhianatan.
Apa yang ditulis Babra mungkin tidak akan ditemukan dalam naskah pidato kenegaraan atau buku pelajaran sekolah. Tapi justru karena itulah ia penting. Karena ia menulis bukan dari menara kekuasaan, melainkan dari tanah basah tempat luka-luka sosial berakar. Ia menulis bukan untuk menyenangkan, tetapi untuk menggugah. Bukan untuk menyatukan dalam kebohongan, tapi untuk merengkuh perbedaan dalam kebenaran yang getir.

Di tengah euforia politik, nasionalisme kosmetik, dan parade pembangunan yang sering kali mengabaikan jiwa, Babra mengajak kita bertanya: apakah kita benar-benar punya bangsa, atau hanya hidup dalam ilusi bernama “nasion”? Dan jika pun kita memilikinya, apakah bangsa itu cukup lapang untuk menampung suara-suara yang berbeda, kulit-kulit yang lain, tubuh-tubuh yang jauh dari pusat kuasa?

Maka buku ini bukan sekadar bacaan; ia adalah latihan mencintai bangsa dengan cara yang dewasa—dengan berani marah, berani kecewa, dan pada akhirnya, berani berharap kembali.

Karena mungkin, bangsa yang paling layak untuk kita perjuangkan…adalah bangsa yang berani mengakui kesalahannya sendiri.

Ishak R. Boufakar
Lahir di Kian Darat, 23 Juli. Ibunya bernama Siti Aisyah, seorang penjahit.