ARUNG DAN JONKER LEBARAN DI GOWA

Esai Ishak R Boufakar 31 Mar 2025

Gambar Utama
HIDUP yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan, begitulah kata Sutan Sjahrir. Janin tumbuh di rahim, terlebih dahulu melewati serangkaian pertarungan antarsel sperma (spermatozoa). Atau bayi, saat ia lahir, seorang ibu bertarung dengan maut. Ibadah puasa semisalnya, juga sebuah pertarungan melawan melawan hawa nafsu.

Mengapa melawan hawa nafsu? Para mubaligh berpendapat, hawa nafsu adalah inang dari segala keburukan dan pangkal dosa. Itu sebabnya, hawa nafsu semestinya dilawan, biar manusia tidak berbuat keji, mungkar, dan sesat.

Dalam psikoanalisis, hawa nafsu disebut "id". Nafsu juga sering dikaitkan dengan "libido". Adalah Sigmund Freud Bapak Psikoanalisis asal Austria, mendefinisikan libido sebagai energi atau kekuatan naluri yang berasal dari id. Libido merupakan bagian dari ketidaksadaran dan pendorong perilaku manusia.

Ketika libido tidak terpenuhi, menurut Freud, terjadi ketegangan dan gangguan. Saran Freud, libido bisa diatasi dengan strategi mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Apa maksudnya? Defense mechanism adalah strategi proteksi yang berasal dari alam bawah sadar seseorang. Secara tidak sadar, seseorang akan melindungi dirinya sendiri agar perasaannya tidak terluka dari suatu hal atau situasi yang kurang menyenangkan dan tidak nyaman.

Defense mechanism bukanlah hal yang bertujuan untuk mengatasi masalah dalam bersosialisasi, melainkan reaksi yang secara spontan dilakukan oleh seseorang. Dengan kata lain, pertahanan diri seseorang akan secara otomatis aktif ketika menghadapi hal-hal yang dapat memicu perasaan negatif, seperti marah, sedih, kecewa, takut, dan malu. Alih-alih bereaksi dengan emosi yang meluap-luap, seseorang akan berkompromi dengan dirinya sendiri dengan cara mengaktifkan defense mechanism atau mekanisme pertahanan diri.

Ibadah puasa, meminjam "defense mechanism" Freud, berarti suatu taktik menekan hawa nafsu. Imam Ali dalam Nahj Al-Balaghah mengatakan, “Anak Adam dapat binasa karena dua anggota tubuh: perut dan kemaluan.” Bukankah pelbagai kerusakan di dunia ini terjadi karena manusia tidak bisa mengontrol perut dan kemaluaannya? Jadi, puasa merupakan salah satu latihan terbaik untuk mengendalikan perut dan kemaluan.

Syahdan, kita tahu semua. Puncak dari pertarungan adalah kemenangan. Idul Fitri, dalam pahaman orang awam, berarti "Hari Raya Kemenangan" selama sebulan lamanya bertarung melawan hawa nafsu.

**
Soal perang, tidak selalu buruk. Semisal manusia, dianjurkan untuk berperang melawan kebatilan. Melawan kemiskinan, ketidakadilan, dan kesewenangan. Kisah Arung Palakka misalnya, berperang untuk membebaskan rakyat Bone dan rakyat Soppeng dari "kekuasaan" Kerajaan Gowa, pada 1666-1669.

"Pria muda itu. Awal tahun 1660, dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan lebih dari 10.000 orang dari negeri asalnya dijadikan pekerja paksa. Orang-orang Bone itu dipekerjakan untuk menggali kanal di sepanjang pesisir Makassar sebagai garis pertahanan dalam rangka peperangan melawan VOC," tulis Iswara N Raditya dalam "Arung Palakka di antara Gelar Pahlawan dan Pengkhianat" terbit di Tirto (5/4/2019).

Pada akhirnya, sebagaimana yang kita ingat. Arung Palakka berhasil meruntuhkan dan menguasai Benteng Somba Opu pada 24 Juni 1669. Arung Palakka, tidak sendiri ia dibantu "Jonker van Manipa" atau Kapitan Jonker dari Manipa, Maluku.

**
Malam lebaran ini, saya bergegas ke Gowa, dengan maksud berlebaran bersama satu keluarga asal Bone. Keluarga "Andi" ini, saya sudah anggap sebagai keluarga sendiri. Besok Idul Fitri, tak sekadar ritual tahunan, melainkan suatu perjalanan "kembali ke fitrah": kembali pada muasal. Sebagaimana saya, pulang pada napak tilas sejarah masa silam:

Di Gowa malam ini, saya menjelma Kapitan Jonker, datang membantu Arung Palakka, membebaskan manusia dari kekejaman penjajah. Bersama-sama menjungkirbalikkan "hawa nafsu" penguasa.

Selamat berlebaran!
Maaf lahir batin!

Bumi Mawang, 30 Maret 2025
Ishak R. Boufakar